Cilongok – Berawal dari rasa keprihatinan para sahabat Ansor Cilongok pada tahun 2008 terhadap maraknya praktik pinjaman berbunga tinggi (rentenir) yang menjerat para pedagang pasar Cilongok hingga menyebabkan banyak kios tutup, kini Koperasi Gema Nusa Cilongok menjelma menjadi salah satu koperasi yang tumbuh kuat dengan aset mencapai Rp. 5 miliar.

Keprihatinan tersebut mendorong anggota GP Ansor Cilongok untuk merumuskan solusi yang nyata. Mereka kemudian berkumpul dan menggagas pendirian koperasi sebagai upaya membantu para pedagang, terutama melalui sistem simpan pinjam yang lebih manusiawi dan berkeadilan.
Dibentuk dengan Modal Awal Rp. 8 Juta. Pada awal pembentukan, modal koperasi hanya sebesar Rp8 juta yang berasal dari tabungan anggota. Proses pembentukan dilakukan melalui serangkaian rapat intensif, termasuk untuk menentukan nama “Gema Nusa.”
Acara peresmian koperasi dilaksanakan pada 18 November 2008 dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Koperasi Kabupaten Banyumas.
Namun, perjalanan awal tidak mudah. Untuk memenuhi syarat pendirian badan hukum, koperasi harus memiliki minimal Rp. 20 juta. Ketua koperasi kala itu meminjam dana dari Bank BRI, tetapi sebelum usaha berjalan, cicilan sudah mulai berjalan sehingga memunculkan kendala baru. Akhirnya, dana tersebut dikembalikan.
Solusi datang dari salah satu anggota DPRD yang mengarahkan koperasi meminjam modal tanpa jaminan melalui koperasi pegawai PKPRI.
Mulai Usaha dan Program Koperasi
Usaha pertama koperasi dimulai dari penjualan sembako dan simpan pinjam. Saat ini, koperasi berkembang dengan layanan :
- Penjualan barang kebutuhan sehari-hari
- Simpan pinjam untuk pedagang dan anggotaPenjualan tiket
- Program penyaluran zakat hingga 10 ton setiap Ramadhan
- Fasilitasi pemasaran produk kader NU
Selain itu, koperasi memberikan keuntungan sosial berupa paket parcel tiap Lebaran. Anggota tidak dikenakan potongan biaya dan mendapatkan layanan pinjaman dengan bunga rendah 1,5%, bahkan tanpa bunga untuk mekanisme tertentu. Aset Tumbuh Menjadi Rp5 Miliar
Kini, aset koperasi telah mencapai Rp. 5 miliar, terdiri dari :
- Rp. 2 miliar dalam bentuk tanah dan bangunan
- Rp. 3 miliar berupa aset perdagangan
Koperasi ini kini memiliki 700 anggota, dengan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) di mana 20% masuk ke MWC NU dan 20% untuk GP Ansor. Struktur pengurus saat ini dipimpin oleh:
- Ketua : Surip Riyadi
- Sekretaris: Syeiun dan Must Angin
- Bendahara: Arif Rahmanudin dan Warsito
- Koperasi juga didukung oleh 3 karyawan, 3 pengawas, dan pembantu umum.
Tantangan dan Strategi Keanggotaan : Kendala terbesar koperasi adalah masih adanya pedagang yang memilih meminjam ke rentenir. Faktor lainnya adalah sulitnya melakukan penagihan kepada anggota internal yang merasa memiliki kedekatan emosional.
Untuk menarik anggota baru, koperasi memanfaatkan kedekatan organisasi dengan warga nahdliyyin dan menawarkan program pinjaman yang ringan dengan jaminan hanya diberlakukan untuk pinjaman di atas Rp3 juta. Hingga kini, belum pernah ada pencabutan jaminan, tetapi aturan tetap diberlakukan untuk menjaga kedisiplinan.
Ekspansi Melalui Program MBG : Saat ini, koperasi juga memiliki rencana mengembangkan bisnis di luar wilayah Cilongok melalui program MBG, di mana Gema Nusa menjadi payung hukum pendiriannya. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jaringan usaha koperasi serta meningkatkan kesejahteraan anggota.
Dari Gerakan Sosial Menjadi Pilar Ekonomi : Koperasi Gema Nusa Cilongok adalah contoh nyata bagaimana organisasi keagamaan dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang berbasis solidaritas. Melalui sistem koperasi yang berkeadilan dan berlandaskan nilai kebersamaan, koperasi ini bukan hanya menjadi solusi atas persoalan ekonomi anggota, tetapi juga menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis organisasi.
